19 Mar 2016

Sikap Kita Dalam Menyikapi Masalah

Sikap Kita Dalam Menyikapi Masalah - Semua orang pasti punya masalah, dan masalah itu kadang membuat mereka stres, kacau, dan frustasi. Tidak ada yang bisa menghindari suatu masalah. Para pakar psikolog pun pasti pernah mengalami suatu masalah. Tapi ini bukan soal masalah yang di hadapi, melainkan tentang bagaimana kita menghadapi masalah itu.



Manusia memiliki watak yang berbeda-beda, rasa yang berbeda, sensasi yang berbeda, kepekaan yang berbeda, dan pola pikir pun berbeda. Namun dari perbedaan itu, tidak bisa di pungkiri bahwa manusia mengalami hal yang sama, yaitu Masalah. Saya punya masalah dan andapun juga punya masalah, jelas itu tidak bisa di pungkiri. Hanya saja dalam menanggapi masalah tersebut, kita punya cara masing-masing. Dan itu hanya akan di lakukan oleh kita sendiri.

Orang lain mungkin akan menasihati jika kita salah. Tapi apa iya kita akan menanggapinya? Hidup kita adalah cara kita. Meski orang lain mengarahkan, saya yakin anda pasti tidak sepenuhnya mengikuti arahan itu, tapi akan berpikir dengan cara anda sendiri, dan masukkan orang lain hanya sebagai patokkan saja.

Kita hidup di jaman yang serba modern, dimana semuanya serba keras dan harus di hadapi dengan tegas. Dan kita tentu tidak akan terus-terusan bersembunyi dari kenyatan, jika tidak mau terus-terusan di bayang-bayangi suatu masalah.

Hidup itu perjuangan! 
Memang benar, hidup memang perjuangan. 

Karena di saat kita akan berdiri pun, kita memerlukan perjuangan, apa lagi menghadapi masalah hidup yang bertubi-tubi. Tidak ada satupun orang yang hidupnya instan.

Tapi tahukah anda, kalau tingkat kesetresan seseorang dapat di lihat dari tingkah lakunya? Saya tidak bilang bahwa saya bisa membaca perasaan orang lain dari sikapnya, tapi kita pun pasti pernah ingin mengekspresikan diri kita agar terlepas dari semua beban masalah yang ada di kepala kita, bukan?  Ya, itu adalah hal yang alami, yang semua orang pun pasti ingin melakukannya.



Ini Tentang Kita Dalam Menyikapi Masalah


Sayapun kadang bernyanyi dengan suara yang lantang dan diiringi alunan gitar yang tak terarah jelas, ketika tingkat kestresan sudah hampir meledak di kepala saya. Kadang pula saya termenung dan memilih untuk menjauhi keramaian atau menyendiri, ketika saya ingin fokus memikirkan masalah. Semua itu hanya supaya saya bisa terlepas dari beban masalah yang saya alami.

Mungkin anda ingat sebuah video artis Indonesia yang mengejutkan publik?  Ya, Marshanda. 
Apa yang ada di pikiran anda ketika melihat video Marshanda itu? Stres? Depresi? Atau apa? 
Saya yakin anda pasti punya penilaian sendiri tentang video itu. Bukan hanya anda, tapi kita semua. Itu adalah salah satu sikap Marshanda dalam menyikapi masalahnya. Ini pun jelas di akui oleh Marshanda nya. Dia mengatakan bahwa Sekitar 98% orang pasti pernah mengalami stres, cara mengekspresikannya pasti berbeda-beda, dan video itu adalah cara Marshanda mengekspresikan atau menyikapi masalah yang menimpa dirinya.

Dari pernyataan Marshanda itu, saya berpikir bahwa itu adalah hal yang benar! Mungkin anda pernah lihat di akun sosmed, ada yang update status tentang kegalauannya? Itu juga salah satu ekpresi orang dalam menyikapi masalahnya. Dengan cara apapun itu, yang pasti dia berusaha lepas dari masalahnya.

Lantas, apakah itu sikap yang wajar atau berlebihan? 
Saya tidak bisa menjelaskannya. Yang jelas, selagi itu tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain, itu adalah hal yang wajar. Bukankah kita punya hak untuk bahagia? Jadi apa salahnya jika kita ingin berekspresi? Jelas itu pun tidak ada hukum larangannya.

Seperti lagunya Lenka "Trouble Is A Friend". Lagu itu menggambarkan bahwa setiap orang selalu di ikuti oleh suatu masalah, dan itu memang benar! Kapanpun, dimana pun, dengan siapapun atau tanpa siapapun, masalah akan tetap mengikuti. Siap atau tidak, mau tidak mau, kita harus menerima masalah itu. Jangan lari dari masalah! Itu bukan suatu solusi, justrui akan mendatangkan masalah baru.

Masih ingat tentang cerita vokalis band fenomenal "Nirvana"? Di mana sang vokalis di kabarkan bunuh diri gara-gara depresi atas beban hidupnya. Dalam kejadian itu tidak ada yang pantas di salahkan. Kurt melakukan bunuh diri, karena tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk masalah yang menghampirinya, sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya begitu saja.

Bila kita tela'ah lebih dalam. Sebenarnya Kurt tidak harus melakukan bunuh diri. Dia bisa berkonsultasi dengan orang yang dia percaya untuk berbagi masalah hidupnya. Atau melakukan pendekatan yang sedekat-dekatnya dengan Tuhan. Tapi sayangnya, Kurt memilih jalan yang berbeda.
Sebagai manusia normal, wajar bila kita memikirkan sebuah masalah dan mengkhawatirkannya. Tapi tidaklah pantas bila sampai berlebihan. Itu tidak baik buat kesehatan anda dan untuk masa depan anda. Orang yang selalu mencemaskan masalahnya, atau orang yang selalu terbayang-bayang dengan masalahnya, dia akan merasa phobia dengan hal baru, dan tempat baru. Dia akan lebih merasa nyaman dengan keadaannya yang saat itu.

Mengapa sampai demikian? 
Pernahkah kamu mendapat sebuah masalah yang berat untuk dijalani? 

Ya contohnya ketika kita masih sekolah dulu, pada saat tidak mengerjakkan PR. Kita pasti enggan untuk berangkat sekolah, karena takut akan dimarah oleh guru kita. Alhasil kita tidak akan mau untuk menghadapi masalah itu dan hanya bisa berdiam diri sambil memikirkan masalah itu dan berharap agar cepat berlalu.

Orang yang sering lari dari masalah, maka sampai kapanpun tidak akan berani menghadapi sesuatu yang baru, karena nggak mau membuat atau bertemu dengan masalah baru. Yang ada  hanya larut dalam lamunan imajinasi, orang yang suka menghindari masalah, dialah orang yang suka berharap keajaiban datang begitu saja di pundaknya.

Ini mengingatkan saya dengan lagunya "Peterpan" yang judulnya "Tertinggalkan Waktu". Lirik lagu itu, sama persis dengan kejadian yang di atas. Dimana ada seseorang yang hanya berdiam diri saja dalam menginginkan sesuatu, dan mengharapkan sesuatu itu datang sendiri padanya. Lalu, setelah harapannya tidak terkabulkan, dia hanya bisa menyesal. Bukankah seharusnya agar kita bisa meraih keinginan kita, kita harus berusaha dan menerima semua resikonya?

Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan pikiran, dimana itu adalah kekuatan kita yang sesungguhnya. Bukan otot kekuatan kita yang nyata, Otot hanyalah faktor pendukung untuk membantu kinerja otak kita agar bisa bekerja dengan baik.

Bukankah banyak orang yang lumpuh tapi berprestasi? 
Bukankah ada, orang yang tidak punya tangan tapi bisa berkarya? 
Bukankah ada juga, orang yang sering di bully tapi bisa membuktikan bahwa dia bisa sukses? 
Itu semua pembuktian bahwa otot, bukanlah kekuatan utama umat manusia. Tapi otak lah kekuatan utama manusia itu. Sekarang, tinggal bagaimana kita dalam menyikapi masalah. 

Saya tidak punya kuasa memaksa anda untuk melakukan ini atau itu. Inti dari tulisan ini, agar kita semua bisa menyikapi masalah kita masing-masing dengan bijak. Semoga bermanfaat.

Ada Pertanyaan atau Komentar? Silahkan sampaikan disini, InsyaAllah admin kami akan segera meresponnya.
EmoticonEmoticon