7 Mei 2016

Menjaga Reputasi Perusahaan

Menjaga Reputasi Perusahaan - Kantor itu tempat ‘singgah’ sementara waktu. Berapa lama? Relatif. Ada yang sampai pensiun. Dan ada juga yang sebentar saja.

Walau begitu, kita tentu ingin bekerja dikantor dengan reputasi tinggi. Anda tidak ingin kerja dikantor yang reputasinya buruk kan? Lantas, bagaimana reputasi itu dibangun? Melalui reputasi setiap individu yang bekerja disana. Termasuk kita, Anda dan saya.


Reputasi perusahaan bisa rusak hanya karena satu atau dua gelintir karyawannya. Walaupun karyawan lain bagus, tapi ada satu saja yang buruk, maka akan buruk pula reputasi perusahaan itu dimata publik. Mestinya jangan disama ratakan begitu ya. Itu oknum. Tapi, publik punya caranya sendiri untuk menilai reputasi perusahaan. Dan kita, tidak bisa memaksa publik untuk beropini seperti yang kita ingini.


Menjaga Reputasi Reputasi Perusahaan

Makanya, kita mesti jaga reputasi perusahaan itu. Caranya? Jaga akhlak dan perilaku diri sendiri. Akhlak kita buruk? Otomatis membuat reputasi perusahaan buruk. Dan sebaliknya.

Ada Cerita : Sekitar jam 8 malam kemarin seseorang mengetuk pintu pagar. Oh, ojek online mau mengantar barang. Tertera nama istri saya sebagai penerimanya. “Ongkosnya 52 ribu,” katanya. “Dan harus dibayar ditempat”. Lanjutnya.

“Ongkosnya kami yang bayar Mas?” Tanya saya. “Pengirimnya siapa?”
“Katanya sih gitu pak…” jawabnya sambil memperlihatkan angka 52,000 di gadgetnya.


Karena istri saya masih pergi bersama anak-anak, maka saya minta waktu untuk meneleponnya terlebih dahulu. Sayangnya nggak bisa nyambung. Kasihan juga sih tukang ojek online itu, mesti nunggu. Tapi saya tidak bisa terima barang yang tidak jelas apa isinya. Sehingga saya memintanya untuk menunggu.


Baru sekitar 10 menit kemudian bisa nyambung. Langsung saya ceritakan mengenai hal itu. Ojek online itu tampak lega. “Terus, ini ongkosnya 52,000 minta dibayar disini. Benar begitu atau gimana?” demikian pertanyaan terakhir saya kepada istri saya.

Diluar dugaan, tukang ojek itu langsung memotong pembicaraan kami. “Maaf pak, saya lupa. Ternyata sudah dibayar tadi,” katanya.
“Lho? Yang bener mas? Sudah dibayar apa belum? Nanti kamu rugi loh,” jawab saya. Sambungan telepon dengan istti saya belum putus sehingga dia bisa mendengar dialog saya dengan tukang ojek itu.

Jawabannya mutar-muter. Intinya, dia "baru ingat" bahwa ongkosnya sudah dibayar. “Kamu sudah terima uangnya?” Demikian saya menegaskan. “Sudah Pak.” Jawaban itu menjelaskan ‘segalanya’ buat saya.

Pelanggan, hampir selalu bisa merasakan adanya kejanggalan perilaku karyawan. Dan ketika pelanggan mencium ketidakberesan, tidak jarang mereka menghubungkannya dengan reputasi perusahaan.

Kejadian itu, mungkin bisa dimaklumi. Pelanggan paham bahwa tidak mudah untuk menjamin integritas semua karyawan diperusahaan seperti itu. Walaupun tidak men-generalisir, namun pelanggan mengambil sikap untuk lebih berhati-hati.

Dikantor kita, mungkin tidak sesederhana itu untuk menghindari terbentuknya reputasi buruk perusahaan akibat buruknya perilaku salah seorang dari kita. Bayangkan kalau publik mencium ketidakberesan akhlak, perilaku atau sikap salah seorang dari kita. Lalu mereka mencap perusahaan kita seolah semua bersikap seperti oknum


Celaka. Zaman sekarang, kabar bisa menyebar sedemikian masif dan mudahnya. Sehingga perilaku buruk apapun dari karyawan mengancam reputasi perusahaan. Bagaimana kalau mereka ramai-ramai menghindari kita. Lalu pindah ke pesaing kita. Gara-gara satu orang saja?

Maka menjaga reputasi perusahaan itu sederhana kok. Cukup jaga saja akhlak dan perilaku kerja kita. Dengan begitu, reputasi perusahaan bakal baik. Dan yang tidak kalah pentingnya lagi, reputasi kita terjaga dengan baik.

Bagaimana pun juga, kita akan bangga pada kantor yang memiliki reputasi yang baik. Dam reputasi itu, hanya bisa dibangun oleh setiap orang yang ada di kantor kita. Termasuk diri kita sendiri tentunya. Semoga Bermafaat.

Ada Pertanyaan atau Komentar? Silahkan sampaikan disini, InsyaAllah admin kami akan segera meresponnya.
EmoticonEmoticon