28 Jan 2017

Mengupas Style dan Gaya Komunikasi Debat Kandidat Cagub DKI 2017

Mengupas Style dan Gaya Komunikasi Debat Kandidat Cagub DKI 2017 - Seru juga ya kalau menyimak Debat Cagub DKI tadi, apalagi jika nonton bareng bersama rekan-rekan yang satu suara. Saya pas lagi di rumah makan yang isinya beragam, pesan makanannya juga beragam, tapi seluruh mata menuju layar kaca.

Jujur, saya belum menentukan pilihan kemana suara saya dan keluarga saya nanti ditujukan, tapi bagi sebagian masyarakat yang belum menentukan mungkin debat kandidat adalah salah satu cara untuk mengenal lebih dalam calon gubernurnya dan lebih jernih mendengar suara hati yang berbisik. Ini pendapat sepintas saja ya karena saya juga baru nonton pas pertengahan. Kita ambil pelajaran pentingnya untuk memperkaya teknik komunikasi, presentasi dan debat jika suatu waktu diperlukan.

Mengupas Style dan Gaya Komunikasi Debat Kandidat Cagub DKI 2017
Image via tribunnews.com

Kita mulai dari paslon satu, mas Agus Yudhoyono dan Bu Sylvi. Secara pribadi, saya dua kali menyimak presentasi mas Agus jauh sebelum pilgub. Tepatnya tahun 2014 & awal tahun 2016. Kami juga pernah mengundang mas Agus untuk sepanggung dengan saya saat acara Bintang Revolusi membuat seminar Spirit Factory tahun lalu. Kalau dilihat pola komunikasinya, jelas berbeda karena dulu amat kental suasana militernya. Tegas, tanpa tedeng aling-aling, sistematis dan menyuguhkan banyak data.

Sementara tadi, sepertinya sudah dipoles habis-habisan karena seolah-olah saya melihat pak SBY muda. Cara melemparkan senyum, menebar kharisma dan retorikanya mirip. Sangat beda dengan awal-awal dulu saya mengenal beliau.

Conditioning yang dibangun cukup tepat jika ingin meraih suara kalangan menengah bawah. Membumi, tidak terjebak pada hal teknis dan mengayomi. Efek bagi kalangan menengah atas, adalah terkesan normatif dan sebatas wacana semata. Tidak ada yang salah jika mas Agus memilih 'gaya' yang demikian. Ia tak ingin keluar dari kesan 'good boy', santun, merangkul kelas bawah dan berupaya keras untuk keluar dari kesan 'tidak matang'.

Bu Sylvi sebetulnya bisa memainkan aspek pengalaman dalam menyuguhkan data, namun informasi yang disampaikan terlalu penuh sehingga audiens 'sesak' oleh sesuatu yang belum tentu mau mereka dengar. Akhirnya substansi inti pembicaraan menjadi bias.

Namun, bu Sylvi cukup arif untuk mau turunkan 'state'nya (kondisi emosi). Beliau betul-betul bisa memainkan peran sebagai partner ketimbang 'ibu anak' atau mentor dan mentee-nya. Kita tidak melihat rentang usia dan jam terbang yang jauh ketika melihat performa keduanya. Disini point menarik dari bu Sylvi.

Lanjut ke paslon nomor dua. Pak Ahok dan pak Djarot menggunakan strategi bertahan sambil diam-diam menyerang dengan mengandalkan serangan balik. Positioning yang di gunakan pasangan ini adalah 'kami lebih tahu, kami lebih pengalaman, yang lain tidak!"

Gesture yang digunakan pak Ahok menyampaikan pesan untuk selalu mengklarifikasi dan menyatakan bahwa anda tidak lebih tahu dari saya. Sehingga siapapun yang hendak menyerang akan mudah ditangkis dengan gesture dan ekspresi demikian. Ini bagus sekali untuk menjatuhkan psikologis lawan sehingga setiap ekspresi seolah tersemburat pesan,"jangan macam-macam deh!"

Secara alami, wajar saja jika demikian karena pak Ahok menyadari bahwa ia sedang diserang dari dua pihak. Saya menduga, kubu mas Agus dan Bu Sylvi 'terpengaruh' oleh efek psikologis ini. Terbukti ketika mas Sandi hendak menyampaikan pertanyaan kepada bu Sylvi untuk menyerangnya, namun tidak diladeninya. Kemudian mas Agus mengkonfirmasi lagi strategi menyerang dengan tangan lawan tersebut saat bicara.

Keberhasilan berikutnya ketika pak Ahok menggunakan bahasa tubuh 'memisahkan' antara kubu satu dan paslon tiga ketika pak Anies bertanya kepada bu Sylvi, "jadi apa pertanyaannya?" Dan momentum tersebut dimanfaatkan optimal oleh pak Ahok yang menilai sukses, berhasil membenturkan kubu satu dan tiga ketimbang menyerangnya.

Pertahanan Ahok jebol, ketika dia menyuguhkan data yang salah untuk menyerang pak Anies dengan menyebutkan Kemendikbud ada di peringkat 22. Hal tersebut awalnya cukup dianggap telak, namun berakhir dengan blunder yang membuat ekspresi malunya tak bisa dibendung ketika pak Anies meralat.

Pak Djarot memainkan peran kebapakan dan bijaksana sebagai cara untuk menutupi stigma terhadap pak Ahok yang kasar, emosional dan tidak manusiawi. Maka dengan intonasi rendah, datar serta pemilihan diksi yang menyentuh seperti, melayani sepenuh hati, hati nurani, keadilan, kesejahteraan, merupakan strategi yang tepat jika diucapkan oleh pak Djarot. Bawah sadar audiens akan menolak jika itu disampaikan oleh pak Ahok. Konsultan komunikasi mereka cukup tepat memilihkan strategi ini.


Berikutnya kita ke paslon nomor tiga. Jujur, ini amat subyektif jika menilai gaya komunikasi pak Anies Baswedan, karena sejak dulu (meskipun kami ada pada pihak yang berseberangan) saya menganggap pak Anies ini yang paling 'berbahaya' retorikanya.

Dulu, ketika pak Anies ada di pihak Jokowi, saya menjadikan beliau sebagai benchmark jika sewaktu-waktu saya harus berdebat dengan timses mereka. Sementara, kami di timses Pak Prabowo Hatta terus mengkaji teknik dan strategi komunikasi seperti apa yang terbaik untuk menghadapinya. Pak Anies inilah yang jadi catatan utama saya dulu. Jadi saya sudah hafal betul gaya komunikasi dan logika perdebatannya.

Cara menyerang yang elegan, akurat dan presisi adalah ciri khasnya. Tapi penampilan barusan benar-benar tajam. Banyak bahasa simbol yang dihamburkan sehingga seolah setiap kata yang meluncur adalah silet yang siap menyayat mental lawan.

Yang tidak mudah adalah bagaimana secara cepat untuk bangkit kembali ketika mental remuk diserang lawan, pak Anies amat piawai dan terlatih. Saya menduga pendidikan di barat-lah yang merupakan salah satu tempat penempaan mental debat yang demikian.

Data yang disampaikan betul-betul presisi sehingga sulit bagi lawan untuk menemukan celah. Ciri khas akademisi tidak hilang, cerdas, membangun harapan dan meyakinkan. Memanggil guru SMP-nya adalah salah satu simbol bahwa pak Anies menghormati dan menghargai jasa guru-nya meskipun diwaktu SMP. Ini adalah pesan bagi paslon yang sempat 'meremehkan' profesi dosen (guru) yang hanya berteori saja.

Sementara mas Sandi, terus saja mengkonfirmasi karakter ikhlas, sederhana, peduli dan rendah hati jika dinilai dari bahasa tubuh yang ia gunakan. Kami berjumpa pertama kali tahun 2008 saat beliau masih menjadi ketua HIPMI, lalu saat sama-sama di timses pilpres 2014 lalu, dan terakhir saat beliau hadir sebagai nara sumber saat wisuda sekolah public speaking kami Bintang Revolusi tahun lalu.

Orangnya ya memang begitu, kalem, sederhana dan sebetulnya 'saklek' atau tegas tapi tetap santun. Mas Sandi berulang kali menekankan pada aspek kompetensi dasarnya yakni bidang leadership dan entrepreneurship.

Tapi berbeda dengan pak Anies yang menyasar kalangan menengah atas, gaya komunikasi yang dipakai mas Sandiaga lebih membumi agar dapat dimengerti oleh kalangan menengah bawah. Ia berupaya sekali merefleksikan temuan-temuannya saat blusukan ke masyarakat lapisan bawah melalui kata-kata yang diucapkan. Padahal harusnya ide yang disampaikan bisa menggunakan bahasa 'kalangan atas' namun gaya yang dipilihnya seolah ingin mewakili jeritan hati masyarakat lapisan bawah.

Berbeda dengan mas Agus yang mencoba merangkul kalangan atas dengan istilah-istilah asing yang disampaikannya, mas Sandi seperti menghindari bahasa asing dan lebih memilih kata-kata keterwakilan.
Baca juga : Indonesia Akan Menjadi Negara Maju Dengan 4 Mega Proyek Besar Ini
Demikian ulasan singkat dari saya. Semoga bermanfaat dan anda makin piawai dalam berkomunikasi.
Salam spektakuler selalu!

#Archan

Ada Pertanyaan atau Komentar? Silahkan sampaikan disini, InsyaAllah admin kami akan segera meresponnya.
EmoticonEmoticon